Blog

Ternyata, 58% Pendiri Startup Sukses di Indonesia Berlatarbelakang Pendidikan Non-Teknologi

Ternyata, 58% Pendiri Startup Sukses di Indonesia Berlatarbelakang Pendidikan Non-Teknologi

58% Pendiri Startup Sukses di Indonesia Berlatarbelakang Pendidikan Non-Teknologi

Ternyata, 58% Pendiri Startup Sukses di Indonesia Berlatarbelakang Pendidikan Non-Teknologi,- Perkembangan teknologi digital di Indonesia telah berhasil ‘menelurkan’ beberapa perusahaan Startup yang sukses di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya; Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Kudo, Urbanindo, Go-jek, dan lain sebagainya. Beberapa dari startup tersebut telah berkembang pesat dan berada di urutan teratas daftar startup terbaik di Indonesia.

Baca juga: Definisi Startup Bisnis

Beberapa waktu yang lalu iPrice Group bekerja sama dengan Ventura, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi di Indonesia, untuk membandingkan lebih dari 50 perusahaan rintisan (startup) dan lebih dari 100 Pendiri startup sukses di Indonesia memilih untuk menganalisa latar belakang pendidikan mereka.

Parameter ‘sukses’ yang digunakan oleh kedua perusahaan tersebut adalah pendiri startups yang minimal sudah mendapatkan pendanaan seri-A. Dari penelitian tersebut ditemukan 2 hal menarik tentang latar belakang pendidikan para founder startup sukses di Indonesia.

Berikut ringkasannya:

Ada 58% dari Pendiri Sukses Mengambil Jurusan Non-Teknologi

Pada 43 orang yang ada di jurusan teknologi, 20 orang pendiri mengambil ilmu komputer, 6 orang informasi teknologi, 4 orang sistem informasi dan teknik komputer dan masih banyak lagi. Beberapa founder startup yang mengambil jurusan ilmu komputer adalah CEO Bukalapak Achmad Zaky, CEO Printerous Kevin Osmond, CEO Agate Arief Widhiyasa, CEO Kudo Albert Lucius, Chief Communication Officer Tiket.com Mikhael Gaery Undarsa dan masih banyak lagi. Rata-rata orang beranggapan bahwa untuk merintis perusahaan yang berbasis teknologi, mereka harus mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Pada kenyataannya kebanyakan dari para founder startup sukses tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi.

 

Dari 102 orang founder startup yang sukses, ada 59 orang mengambil jurusan non-teknologi dan sisanya 43 orang lagi mengambil jurusan Teknologi. Dari 59 orang tersebut, jurusan yang paling banyak diambil adalah

  • Finance (8)
  • Teknik Industri (6)
  • Ekonomi (6)
  • Marketing (5)
  • Akuntansi (4)
  • dan masih ada banyak lagi

Beberapa pendiri yang mengambil jurusan finance adalah salah satu Co-Founder dari GoJek Michaelangelo Moran yang saat ini menjabat sebagai brand director, Co-Founder Sociolla John Rasjid.

Beberapa pendiri yang mengambil jurusan Teknik Industri adalah CEO Snapcart Reynazran Royono dan CEO Moka Haryanto Tanjo.

Di jurusan Ekonomi ada CEO dari Bhinneka Hendrik Tio, CEO HaloDoc Jonathan Sudharta dan board director Qraved Adrian Li.

Pada 43 orang yang ada di jurusan teknologi, 20 orang pendiri mengambil ilmu komputer, 6 orang informasi teknologi, 4 orang sistem informasi dan teknik komputer dan masih banyak lagi.

Beberapa founder startup yang mengambil jurusan ilmu komputer adalah CEO Bukalapak Achmad Zaky, CEO Printerous Kevin Osmond, CEO Agate Arief Widhiyasa, CEO Kudo Albert Lucius, Chief Communication Officer Tiket.com Mikhael Gaery Undarsa dan masih banyak lagi.

Rata-rata orang beranggapan bahwa untuk merintis perusahaan yang berbasis teknologi, mereka harus mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Pada kenyataannya kebanyakan dari para founder startup sukses tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi.

Baca juga: 10 Inspirasi Sukses Pengusaha Muda Ini Patut Dicontoh

Mayoritas Founder Meneruskan Pendidikannya ke Luar Negeri

Pada 43 orang yang ada di jurusan teknologi, 20 orang pendiri mengambil ilmu komputer, 6 orang informasi teknologi, 4 orang sistem informasi dan teknik komputer dan masih banyak lagi. Beberapa founder startup yang mengambil jurusan ilmu komputer adalah CEO Bukalapak Achmad Zaky, CEO Printerous Kevin Osmond, CEO Agate Arief Widhiyasa, CEO Kudo Albert Lucius, Chief Communication Officer Tiket.com Mikhael Gaery Undarsa dan masih banyak lagi. Rata-rata orang beranggapan bahwa untuk merintis perusahaan yang berbasis teknologi, mereka harus mengambil jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Pada kenyataannya kebanyakan dari para founder startup sukses tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi.

Pada level Sarjana (S1) dari total 102 pendiri, 58 orang belajar di luar Indonesia dan 44 orang belajar di Indonesia. Sedangkan di level pascasarjana (S2) hanya 4 orang yang belajar di Indonesia, sisanya 32 orang memutuskan untuk belajar di luar Indonesia. Pada level MBA, hanya 2 orang yang belajar di Indonesia, 16 pendiri lain belajar di luar Indonesia.

Berdasarkan data ini bisa kita tahu bahwa pada level sarjana (S1), universitas lokal hampir dapat menyaingi universitas internasional, hanya berbanding 14 orang. Namun pada level pasca sarjana (S2), kebanyakan founder startup memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Sebagai contoh;

  • Chief of Product Ruang Guru Iman Usman yang mengambil S1 di UI dan S2 di Teachers College of Columbia University.
  • CEO Fabelio Marshall Tegar Utoyo, ia mengambil S1 di ITB dan melanjutkan S2 di University of Sydney.
  • CEO Investree Adrian A. Gunadi, mengambil S1 di UI dan melanjutkan S2 di Rotterdam School of Management, Erasmus University.

Pada level Master of Business Administration, mayoritas Pendiri startup sukses di Indonesia belajar di luar Indonesia. Hanya dua orang yang mengambil gelar MBA di Indonesia. Mendapat gelar Master of Business Administration (MBA) adalah sebuah kebanggaan tersendiri, dan syarat yang ditentukan tidak semudah ketika mengambil pascasarjana. Ini salah satu alasan mengapa kebanyakan founder startup mengambil gelar MBA nya di universitas yang ternama.

Data ini menunjukkan bahwa pada level sarjana (S1), universitas lokal tidak kalah jauh dengan universitas internasional dalam hal jumlah Pendiri startup sukses di Indonesia yang dicetak. Namun memang perlu ada peningkatan kualitas pada level pendidikan yang lebih tinggi agar semakin banyak pendiri-pendiri sukses yang berasal dari universitas lokal.

COMMPASS DIGITAL adalah perusahaan yang bergerak di bidang virtual assistant yang memahami betul kebutuhan pebisnis dalam  mengoptimaliasi fungsi digital sebagai salah satu faktor dalam meningkatkan profit bisnis. Digital marketing adalah salah satu spesialisasi dalam pekerjaan kami yang sering kami kerjakan.

[table id=1 /]

 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *